Headlines News :
Home » » PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI MENERAPKAN BUDAYA HIDUP SEHAT

PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI MENERAPKAN BUDAYA HIDUP SEHAT

Written By Edi Rajo Intan on Senin, 10 Desember 2012 | 01.58


PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI MENERAPKAN BUDAYA HIDUP SEHAT MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS KOMPUTER UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR



D I S M A N, S.Pd

 Menerapkan budaya hidup sehat merupakan salah satu standar kompetensi yang ada pada kelas IV Sekolah Dasar mata pelajaran
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Kurangnya referensi tentang kesehatan dan kurangnya perhatian siswa terhadap kebersihan lingkungan, maka dibutuhkan media pembelajaran tentang budaya hidup sehat khususnya kebersihan lingkungan yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami konsep dan contoh tentang kebersihan lingkungan.
Berdasarkan pengamatan siswa kelas IV sangatsenangdenganpembelajaran yang berhubungan dengan komputer, oleh karena itu peneliti mengembangkan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.
Tujuannya yaitu untuk mengembangkan standar kompetensimenerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yang diharapkan dapat membantu dalam memahami konsep dan contoh. Penelitian ini mengacu metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775). Dari sepuluh langkah yang dikemukakan oleh Borg & Gall, penelitian dan pengembangan ini hanya menggunakan 7 langkah saja dimana disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan pengembangan.
Adapun 7 langkah adalah sebagai berikut:
1) riset dan pengumpulan informasi,
2) pengembangan rancangan produk,
 3) evaluasi para ahli,
4) uji coba kelompok kecil,
5) revisi uji coba kelompok kecil,
 6) uji coba kelompok besar,
7) revisi hasil uji coba lapangan kelompok besar.

Kata kunci: Pengembangan, Menerapkan Budaya Hidup Sehat, Mutimedia    
                   Interaktif, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

Menerapkan budaya hidup sehat merupakan salah satu standar kompetensi yang ada pada kelas IV Sekolah Dasar mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Berdasarkan analisis kebutuhan di tiga sekolah dasar yaitu di SDN 22 Sungai Serik, SDN 03 Ps Sebelah Silaut dan SDN 23 UPT Sindang, referensi yang digunakan sangat kurang khususnya tentang kesehatan dan hanya menggunakan buku paket 1996-1997 dan LKS Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan. 
Dari hasil penelitian melalui pengisian angket yang dilakukan peneliti di tiga Sekolah Dasar terhadap 90 siswa kelas IV dengan perwakilan 30 siswa masing-masing sekolah, diperoleh data bahwa:
1) 90 siswa memperoleh materi menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, mengenal berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan terhadap sumber penularan penyakit seperti nyamuk dan unggas secara teori,
2) 90 siswa menggunakan buku sebagai media penyampaian bahan ajar,
3) 90 siswa menyatakan memiliki komputer disekolahnya,
4) 90 siswa menyatakan boleh menggunakan komputer saat pembelajaran, 5) 90 siswa menyatakan boleh menggunakan komputer untuk kegiatan         pembelajaran selain TIK,
6) 90 siswa menyatakan bisa mengoperasikan komputer dan
7) 90 siswa senang menggunakan media komputer untuk pembelajaran.
Kurangnya perhatian siswa tentang kebersihan lingkungan terlihat saat siswa membuang sampah sembarangan di halaman sekolah padahal di tempat tersebut terdapat banyak slogan-slogan tentang kebersihan dan di laci-laci bangku terdapat sampah kertas dan bungkus jajan.
Kurangnya referensi tentang kesehatan dan kurangnya perhatian siswa tentang kebersihan lingkungan maka dibutuhkan media pembelajaran tentang budaya hidup sehat khususnya kebersihan lingkungan yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami konsep dan contoh tentang kebersihan lingkungan.
Budaya hidup sehat merupakan standar kompetensi yang terdapat di kelas IV khususnya tentang kebersihan lingkungan mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat siswa kelas IV sangat senang dengan pembelajaran yang berhubungan dengan komputer, oleh karena itu peneliti mengembangkan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yang diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep dan contoh.
Multimedia Interaktif
Multi artinya banyak dan media adalah sarana, alat atau perantara dalam hal ini bahasa, baik bahasa lisan, tulisan, gambar, suara/bunyi maupun gerak yang digunakan dalam proses penyampaian pesan (www.ap304.wordpress.com). Pengertian lain menyebutkan interaktif bersifat saling melakukan aksi, antar-hubungan, saling aktif (www.artikata.com). Multimedia interaktif merupakan multimedia yang bisa secara bebas digunakan oleh pemakai, dalam hal ini pemakai lebih leluasa dalam mengoperasikan program terebut.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapkan Wijaya (2010) “bila pengguna mendapatkan keleluasaan dalam mengontrol multimedia tersebut, maka hal ini disebut multimedia interaktif”. Penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran memiliki kelebihan yaitu lebih interaktif, menarik dan pengguna juga bebas menggoprasikannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Munadi  (2010:152) ”kelebihan multimedia interaktif sebagai media pembelajaran adalah interaktif, memberikan iklim afeksi secara individual, meningkatkan motivasi belajar, memberikan umpan balik, kontrol pemanfaatannya berada pada penggunanya”.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa multimedia interaktif merupakan media yang memiliki seluruh komponen media yang menjadi satu kesatuan dan pengguna mempunyai kendali dalam menjalankan program tersebut.

Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa (Miarso, 1984:48). Sesuatu yang dapat dikatakan sebagai media pendidikan atau pembelajaran apabila mereka (media tersebut) digunakan untuk menyalurkan atau menyampaikan pesan dengan tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran (Dwiyogo, 2008:1). Menurut Sukayati (2003:1) mengartikan “media pembelajaran sebagai semua bendayang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran.”
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran  untuk menyampaikan informasi yang membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

Penelitian dan Pengembangan
Sukmadinata (2005:165) menyebutkan penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah “sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik.”Penelitian dan pengembangan merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembnagkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan menurut Setyosari dan Widijoto (2007:38) “dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengembangan memfokuskan kajiannya pada bidang desain atau rancangan, apakah itu berupa model desain dan desain bahan ajar, produk misalnya media, dan juga proses”. Menurut Winarno (2007:2) menyatakan bahwa “penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah tertentu, yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah penelitian secara ilmiah”.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan adalah suatu proses yang dilakukan untuk membuat produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada.

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Abdullah (1994:3) memberi makna dari pendidikan jasmani adalah “suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui kegiatan jasmani yang intensif dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.” Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah kehidupan yang sehat jasmani dan rohani (Tamat, 2008:15).
BSNP (2006:702) menyatakan bahwa: Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan social, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang dirancang cara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang merupakan aktivitas psikomotorik yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani melalui keterampilan gerak (psikomotor) yang didukung oleh pengetahuan (kognitif) yang mengembangkan sikap (afektif) dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Menerapkan Budaya Hidup Sehat
Budaya hidup sehat merupakan sebuah konsep kehidupan yang mengedepankan upaya-upaya dan kegiatan-kegiatan hidup yang sehat (www.anneahira.com). Menerapkan budaya hidup sehat merupkan salah satu standar kompetensi ruang lingkup kesehatan mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang didalamnya terdapat 4 kompetensi dasar yaitu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah, membiasakan membuang sampah pada tempatnya, mengenal berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan, dan menjaga kebersihan lingkungan terhadap sumber penularan penyakit seperti nyamuk dan unggas.
Kompetensi dasar pertama yaitu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekolah membahas tentang pengertian lingkungan, sarana dan prasarana lingkungan, peralatan kebersihan lingkungan, kebersihan lingkungan rumah dan sekolah.
Lingkungan adalah alam sekitar manusia yang memungkinkan terjadinya kehidupan, baik berupa fisik, biologi maupun sosial (Subiyantoro, dkk, 1992:46). Menurut Kamus Indonesia, kebersihan berasal dari kata “bersih” yang artinya bening tidak keruh, bebas dari kotoran, tidak tercemar (terkena kotoran), tidak tercampur dengan benda atau sesuatu  yang lain, tidak ternoda. Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan higiene yang baik dan atau keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu, sampah, dan bau (www.wikipedia.com).  Menurut Subiyantoro, dkk (1992:52) menjelaskan sarana-sarana kebersihan terdiri dari 5 macam yaitu persediaan air bersih, kamar mandi, tempat cuci tangan dan kaki, kakus, peturasan (tempat buang air kecil), tempat sampah. Menurut Cahaya (2007:124) “alat-alat kebersihan yang biasa dipakai untuk membersihkan sampah antara lain: sapu lidi, pengki dan pengkait sampah.” Menurut Wikipedia “alat-alat kebersihan yang biasa dipakai untuk membersihkan lingkungan rumah dan sekolah antara lain: sapu, pengki, penghisap debu, dan tempat sampah. Membersihkan lingkungan rumah dapat dilakukan dengan cara (Cahaya, 2007:127):
(1) Melap jendela dan perabot rumah tangga, (2) Menyapu lantai dan halaman setiap hari, (3) Mengepel lantai, (4)Mencuci peralatan masak dan peralatan makan, (5) Membersihkan jamban dan menguras kamar mandi serta tempat-tempat genangan air, (6) Membuang sampah pada tempat sampah (pisahkan dahulu sampah organik dan nonorganik), (7) Melakukan pengasapan (fogging) bila dianggap perlu.

Membersihkan lingkungan sekolah meliputi menyapu taman sekolah, menyapu dan mengepel kelas, membersihkan laci-laci bangku, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan kamar kecil dan tempat cuci tangan, mengubur barang bekas, melakukan pengasapan (Cahaya, 2007:127). Manfaat menjaga kebersihan lingkungan sekolah meliputi lingkungan sekolah akan menjadi bersih, indah dan nyaman, kebiasaan baik untuk selalu menjaga kebersihan dapat menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan di mana saja berada, siswa akan belajar dengan giat bila keadaan lingkungan sekolah bersih, aman dan nyaman, siswa akan terhindar dari penularan penyakit yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.
Kompetensi dasar kedua yaitu membiasakan membuang sampah pada tempatnya membahas tentangpengertian sampah, jenis-jenis sampah, bahaya sampah, tata cara pemusnahan sampah, dan pengaturan pembuangan sampah.
Menurut Ichsan dan Muchsin (1979:43) menjelaskan bahwa pengertian sampah adalah “segala zat padat atau semi padat yang tak berguna lagi atau terbuang, baik yang dapat membusuk ataupun yang tidak dapat membusuk.” Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian (www.kesmas-unsoed.blogspot.com). Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.
Menurut Wikipedia mnejelaskan bahwa jenis sampah dibedakan menjadi 4 kategori sebagai berikut:
(1) Berdasarkan sifatnya meliputi sampah organik dan anorganik. (2) Berdasarkan bentuknya meliputi sampah padat, sampah cair dan sampah gas. (3) Berdasarkan sumbernya meliputi sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah nuklir, sampah pertambangan. (4) Berdasarkan karakteristiknya meliputi garbage, ashes, street sweeping, dead aniamal, household refuse, demolition wastes.

Membuang sampah sembarangan membawa dampak buruk bagi kehidupan, adapun bahaya sampah (www.kaskus.com) yaitu:
(1) Bahaya membuang sampah di sungai adalah terjadinya banjir. (2) Sampah plastik butuh waktu minimal 100-400 tahun untuk bisa terurai. (3) Sampah plastik yang dibakar menyebabkan racun, karena mengandung zat berbahaya yang bahkan bisa menyebabkan kanker. (4) Sampah logam yang dibuang ke sungai bisa meracuni sungai dan membunuh mahluk didalamnya. Air yang ada kandungan logamnya juga sudah tidak sehat dan bisa menyebabkan kanker. (5) Sampah yang dibuang ke sungai, sampah itu bermuara ke laut. Jika pembuangan terus menerus dan dalam jumlah yang banyak, sampah-sampah akan membentuk daratan. Sampah yang dilaut dan dimakan binatang karena dikira makanan dan keracunan akhirnya mati. (6) Bahaya sampah yang dibuang ke darat secara besar-besaran dan menumpuk seperti gunung (Tragedi Leuwi Gajah)

Pembuangan sampah memerlukan pengaturan khusus secara sunggunh-sungguh. Oleh karena itu sampah merupakan salah satu masalah pengotoran lingkungan yang berhubungan erat dengan kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Untuk pengaturan pembuangan sampah kita harus perhatikan jenis/macam sampah, jumlah dan keadaannya pada musim tertentu. Menurut  Ichsan dan Muchsin (1979:150) menjelaskan ada beberapa fase yang harus diperhatikan dalam pengaturan pembuangan sampah yaitu “penyimpanan sampah (penampungan) di rumah-rumah (Refuse stroge), pengumpulan dan pengangkutan sampah (Refuse collection), dan pembuangan sampah (Refuse disposal).”
Menurut  Ichsan dan Muchsin (1979:157-168) menjelaskan tata cara pemusnahan sampah sebagai berikut: (1) Composting (sampah dibuat pupuk), (2) Hog feeding, (3) Garbage reduction (pengurangan sampah jenis garbage), (4) Individual incineration, (5) Sanitary land fill, (6) Incineration, (7) Grinding discharge to sewer, (8) Dumping, (9) Recycling.
Kompetensi dasar ketiga yaitu mengenal berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan membahas tentang upaya menjaga kebersihan lingkungan, cara mengatasi masalah sampah, dan faktor-faktor penyebab rendahnya kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan.
Upaya menjaga kebersihan lingkungan yaitu dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada masyarakat bagaimana menjaga kebersihan lingkungan, selalu melibatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, sertakan para pemuda untuk ikut aktif menjaga kebersihan lingkungan, perbanyak tempat sampah di sekitar lingkungan anda, pekerjakan petugas kebersihan lingkungan dengan memberi imbalan yang sesuai setiap bulannya, sosialisakan kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah rumah tangga menjadi sampah organik dan non organic, pelajari teknologi pembuatan kompos dari sampah organik agar dapat dimanfaatkan kembali untuk pupuk, kreatif yaitu dengan membuat souvenir atau kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah, atur jadwal untuk kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan.
Cara mengatasi masalah sampah yaitu berpikir kalau yang dibeli akan menjadi sampah dan apa yang kalian perbuat dengan sampah tersebut, sebaiknya sampah di pisah menurut jenisnya masing-masing, sampah alam bisa dijadikan pupuk, sampah buatan (non organik) bisa didaur ulang juga bisa dijual, kurangi penggunaan kantong plastik dan gunakan tas saat berbelanja (www.kaskus.com).
Faktor-faktor penyebab rendahnya kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan antara lain:
(1) Faktor intern (diri sendiri) terdiri dari kurangnya kesadaran atau kepedulian terhadap lingkungan, gengsi, malas, kurang mengerti tentang arti kebersihan. (2) Faktor ekstern terdiri dari peralatan kebersihan kurang memadai, tidak adanya sangsi (hukuman) yang tegas bagi siswa yang melanggar, tidak adanya kebiasaan membersihkan lingkungan, adanya keterbatasan waktu.

Kompetensi dasar keempat yaitu menjaga kebersihan lingkungan dari sumber penularan penyakit seperti nyamuk dan unggas membahas tentang metode penularan penyakit, cara penularan penyakit, dan cara membasmi tempat bersarangnya penyakit.
Nyamuk termasuk dalam serangga yaitu binatang yang termasuk golongan anthropoda yang hidup dimana-mana, di air, di tanah dan lain-lain (Ichsan dan Muchsin, 1979:45). Adapun jenis serangga lainnya seperti lalat, kecoa, kutu yang mampu menularkan penyakit misalnya berbagai penyakit kulit (borok, kudis), berbagai penyakit perut (cholera, diare disentri), dan penyakit malaria, demam berdarah dan kaki gajah (Ichsan dan Muchsin, 1979:46). Sedangkan berbagai jenis unggas seperti ayam, bebek, dan lain-lain yang juga mampu menularkan berbagai penyakit seperti flu burung. Oleh sebab itu kebersihan lingkungan rumah dan sekolah harus dijaga dengan baik agar tidak ada sumber penularan penyakit yang dapat merugikan kita semua. Menurut Ichsan dan Muchsin (1979: 46-48) menjelaskan penularan penyakit oleh serangga dilakukan melalui 2 cara yaitu: (1) Penularan secara mekanis (2) Penularan secara biologis.
Menurut Eni (2008) menjelaskan metode penularan penyakit yaitu dengan cara sebagai berikut: (1) Kontak langsung, (2) Udara, (3) Makanan dan minuman, (4) Vektor (sarana perkembangan).
Cara membasmi tempat bersarangnya penyakit yaitu kuras bak mandi dua kali seminggu, kubur kaleng, ban, dan plastik bekas, bersihkan genangan air tempat nyamuk bersarang, lakukan pengasapan (fogging).

METODE
Penelitian ini mengacu pada model penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall yang yeng telah disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan pengembangan yaitu: (a) Penelitian dan pengumpulan data awal di tiga sekolah yaitu SDN Percobaan 1 Malang, SDN Klojen Malang, dan SDN Madyopuro 5 Malang melalui pengisian angket dan pengamatan. (b) Perencanaan (menyusun rancangan produk yang akan dibuat berisi tujuan pengembangan dan produk yang dikembangkan, selanjutnya rancangan produk dievaluasi oleh ahli media, ahli kesehatan dan ahli pembelajaran). (c) Pengembangkan produk awal berupa multimedia interaktif pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan “menerapkan budaya hidup sehat” setelah dievaluasi dan saran oleh ahli media, ahli kesehatan dan ahli pembelajaran. (d) Persiapan uji coba lapangan awal (kelompok kecil) yang dilakukan pada siswa kelas IV di SDN Percobaan 1 Malang, SDN Klojen Malang, dan SDN Madyopuro 5 Malang dengan menggunakan 6 subyek masing-masing 2 perwakilan tiap sekolah. (e) Revisi terhadap produk pertama sesuai hasil uji coba lapangan awal (kelompok kecil). (f) Uji coba lapangan (kelompok besar) yang dilakukan pada siswa kelas IV di SDN Percobaan 1 Malang, SDN Klojen Malang, dan SDN Madyopuro 5 Malang dengan menggunakan 45 subyek masing-masing 15 perwakilan tiap sekolah. (g) Revisi terhadap produk berdasarkan hasil uji coba lapangan (kelompok besar) dan evaluasi dan saran-saran para ahli, sehingga diperoleh produk akhir.
Subjek penelitian yang terlibat dalam pengembangan ini adalah: (a) Subjek penelitian awal (analisis kebutuhan) sebanyak 3 orang guru pendidikan jasmani, olahraga kesehatan dan siswa kelas IV masing-masing sekolah dasar, (b) Subjek evaluasi terdiri dari 1 orang ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 orang ahli media, dan 1 orang ahli kesehatan, (c) Subjek uji lapangan awal menggunakan 6 subyek masing-masing 2 perwakilan kelas IV tiap sekolah, (d) Subjek uji lapangan menggunakan 45 subyek masing-masing 15 perwakilan kelas IV tiap sekolah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kualitatif dan deskriptif berupa presentase.
HASIL
Pada hasil pengembangan data yang diperoleh dari  tiga guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas IV di masing-masing sekolah dengan memberikan angket dan pengamatan pada siswa kelas IV masing-masing sekolah. Hasil dari pemberian angket tersebut menyatakan bahwa ketiga guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan siswa kelas IV di masing-masing sekolah dasar membutuhkan media pembelajaran melalui multimedia interaktif berbasis komputer dengan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat khususnya kebersihan lingkungan.
Hasil evaluasi ahli media oleh bapak Henry Praherdhiono, S.Si selaku Dosen jurusan Teknologi Pembelajaran Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang mengenai produk pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yaitu (a) Suara narator lebih diperbesar dibanding backsound (musik), (b) Musik pengiring lebih diperkecil volumenya, (c) Suara pengisi suara lebih diperbesar, (d) musik pengiring lebih diperkecil.
Hasil evaluasi ahli pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan oleh bapak Suwarto S.Pd selaku guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan mengenai produk pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yaitu setiap materi dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung materi.
Hasil evaluasi ahli kesehatan oleh ibu drg. Rara Warih Gayatri selaku dosen jurusan Ilmu Keolahragaan fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd mengenai produk pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar yaitu (a) Pada bahasan ruang kelas ditambahkan pencahayaan tidak perlu terlalu terang atau silau dengan ventilasi yang baik, (b) Slide metode penularan penyakit diletakkan sebelum slide penularan penyakit karena nyamuk dan unggas, (d) Slide yang terletak setelah metode penularan penyakit berubah mengikuti perubahan letak slide.
Data hasil uji coba lapangan awal (kelompok kecil) yang dilakukan terhadap 6 siswa diambil secara acak sebanyak 2 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil 92% dari efektivitas Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Berdasarkan kriteria yang ditentukan 92% termasuk kategori baik sehingga produk dapat digunakan untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Data hasil uji coba lapangan (kelompok besar) yang dilakukan terhadap 45 siswa diambil secara acak sebanyak 15 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil 94% dari efektivitas Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Berdasarkan kriteria yang ditentukan 94% termasuk kategori baik sehingga produk dapat digunakan untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.
Data hasil uji coba lapangan awal (kelompok kecil) yang dilakukan terhadap 6 siswa diambil secara acak sebanyak 2 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil bahwa siswa membutuhkan rata-rata waktu selama 81 menit 3 detik untuk mempelajari dan memahami semua kompetensi dasar dalam terdapat pada Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Data hasil uji coba lapangan (kelompok besar) yang dilakukan terhadap 45 siswa diambil secara acak sebanyak 15 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil bahwa siswa membutuhkan rata-rata waktu selama 80 menit 8 detik untuk mempelajari semua kompetensi dasar dalam terdapat pada Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat.
Data hasil uji coba lapangan awal (kelompok kecil) yang dilakukan terhadap 6 siswa diambil secara acak sebanyak 2 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil 100% dari daya tarik Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Berdasarkan kriteria yang ditentukan 100% termasuk kategori baik sehingga produk dapat digunakan untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Data hasil uji coba lapangan (kelompok besar) yang dilakukan terhadap 45 siswa diambil secara acak sebanyak 15 siswa kelas IV di tiap sekolah, diperoleh hasil 100% dari daya tarik Multimedia Interaktif Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Berdasarkan kriteria yang ditentukan 100% termasuk kategori baik sehingga produk dapat digunakan untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Produk pengembangan ini berupa standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Produk ini memiliki kelebihan yakni terdapat evaluasi pada tiap kompetensi dasar dengan option A,B,C, dan D yang dapat dipilih salah satu jawaban yang benar dengan cara klik pada salah satu option tersebut dan akan muncul pernyataan salah jika jawaban salah dan pernyataan benar jika jawaban benar, pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer dapat digunakan guru sebagai media pembelajaran di sekolah, pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer telah melalui evaluasi para ahli, sehingga banyak masukan untuk perbaikan, standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer ini sangat menarik karena disajikan dengan gambar-gambar ilustrasi, dan paduan warna yang disukai oleh siswa sekolah dasar dan melalui multimedia interaktif yang dikembangkan tidak hanya untuk kelas IV tetapi juga untuk semua kelas I sampai kelas VI. Berdasarkan hasil dari analisis data uji coba lapangan awal (kelompok kecil) dan uji coba lapangan (kelompok besar) telah menunjukkan bahwa standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

Saran
Produk ini masih memerlukan evaluasi dan uji coba pada subjek yang lebih luas. Masih perlunya penelitian lebih lanjut mengenai manfaat produk yang dikembangkan, sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini disusun kembali menjadi produk yang lebih baik.


DAFTAR RUJUKAN

______, Definisi 'interaktif', (Online), (http://www.artikata.com/arti-330894-interaktif.php),  diakses 10 Maret 2011.

______. Menerapkan Pengertian Budaya Hidup Sehat dalam Keluarga Kecil, (Online), (http://www.anneahira.com/pengertian-budaya-hidup-sehat.htm), diakses 16 Maret 2011.

Abdullah, A. dan Manadji, A.1994. Dasar-dasar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan.

Adi. 2009. Multimedia Sebagai Media Pembelajaran Interaktif, (Online), (http://ginigitu.wordpress.com/2009/04/21/multimedia-sebagai-media-pembelajaran-interaktif/), diakses 10 Maret 2011.

BNSP. 2006.  Lampiran Standart Isi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: BSNP.

Cahaya, Tim. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk SD dan MI Kelas 4 (H. Hisar, Ed). Jakarta: Piranti Darma Kalokatama.

Dwiyogo, W.D. 2008. Media Pembelajaran Penjas & Olahraga. Malang: Faklultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang.

Ichsan, & Muchsin. 1982. Kesehatan Lingkungan. Jakarta: PT. Rora Karya.

Munadi, Yudhi. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press.

Pribadi, & Katrin. 2004. Media Teknologi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sadiman, Arif, Raharja, R, dan Haryono A, Rahardjito. 2003. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sakri, Gandjar. 2009. Pengertian Multimedia, (Online), (http://ap304.wordpress.com/2009/05/13/multimedia/), diakses 10 Maret 2011.

Sari, Hervita. 2007. Definisi Komunikasi Interaktif, (Online), (http://vitandut.wordpress.com/2007/10/01/definisi-komunikasi-interaktif/), diakses 10 Maret 2011.

Subiyantoro, & Saichudin. 1992. Pendidikan Kesehatan Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyekoperasi dan Perawatan Fasilitas . Universitas Negeri Malang.

Sukmadinata, Nana. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.

Susilana, & Riyana. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Tamat, Trisnowati & Moekarto. 2008. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wijaya, Y.P. 2010. Pengertian Multimedia Interaktif, (Online), (http://yogapw.wordpress.com/pengertian-multimedia-interaktif/), diakses tanggal 17 Februari 2011.

Wikipedia. 2001. Kebersihan, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebersihan), diakses 4 Februari 2011.

Wikipedia. 2008. Multimedia, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Multimedia), diakses 10 Maret 2011.

Share this post :

Poskan Komentar

Pages

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SELAMAT DATANG DI BLOG ED RAJO INTAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger